Tips Menitipkan Anak di TPA

Post On: 23 February 2015
February 24, 2015

Sebagai seorang ibu, sebenarnya ia merasakan gundah manakala dihadapkan pada pilihan yang sangat membingungkan. Di satu sisi ia enggan, bahkan teramat sayang bila melepas karier yang sudah dirintisnya sejak lajang. Di pihak lain, ia pun tidak menginginkan anaknya “nganggur” dirumah bersama seorang pengasuh (baby sitter). Ada niat untuk mendaftarkannya ke Playgroup, tapi lokasinya yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Sepintas telah terpikir tentang TPA (Tempat Penitipan Anak), Apakah ini merupakan pilihan yang tepat?

Tempat Penitipan Anak

Ada hal yang perlu dipertimbangkan sebelum seorang ibu memutuskan untuk menitipkan anak ke TPA.

Tips Menitipkan Anak di TPA

  • Pengasuh yang profesional
    Pilihlah TPA yang memiliki pengasuh yang terlatih karena Tempat Penitipan Anak mestinya tidak hanya sebatas menjadi tempat penitipan, melainkan mampu memberi stimulasi pada anak setara dengan apa yang didapat bila ia sekolah di playgroup atau sejenisnya. Sampai sore hari saat siap dijemput kembali oleh orangtuanya, anak harus diupayakan benar-benar merasa nyaman bersama para fasilitor maupun rekan-rekan seusianya.
  • Memiliki Tempat Bermain Indoor dan outdor
    Tempat Penitipan Anak sebaiknya bukan hanya sekedar bangunan, melainkan wajib memiliki fasilitas tempat bermain indoor dan outdoor sehingga anak bisa leluasa main sepeda atau layangan. Alat permainan indoor sebaiknya bisa dibongkar pasang. Ini untuk memudahkan kesesuaiannya dengan program kegiatan di hari itu.
  • Fasilitas yang Memadai
    Sebuah Tempat Penitipan Anak setidaknya memiliki ruang bermain, ruang tidur, ruang kerjaan, ruang makan, meski tidak selalu harus berbentuk ruang karena bisa saja makan di teras sambil melihat pemandangan seperti rumput, bunga dan sebagainya. Boleh saja sesekali menghadirkan suasana seperti piknik dengan menghamparkan kain di teras. Lalu semua anak menikmati makan bersama. Kebersamaan ini juga merupakan kegiatan positif bagi anak. Ruang tidur tidak wajib menggunakan tempat tidur. Boleh-boleh saja menggunakan busa tebal yang cukup empuk yang dihamparkan di lantai parquet yang jauh lebih aman bagi anak.

Sebelum membuka sebuat Tempat Penitipan Anak, maka pendiri TPA harus memperhatikan kenyamanan dan keamanan TPA.

Tips Mendirikan TPA

  • Agar anak bisa homy, tenaga pengelola harus betul-betul dipersiapkan dengan matang. Setidaknya ada koordinator, ada fasilitator maupun ko-fasilitator yang terjun langsung menangani keseharian anak. Semua perkembangan setiap anak dari hari ke hari dicatat secara tertib yang nantinya dijadikan semacam rapor untuk disampaikan pada orangtua bagaimana perkembangan anaknya selama di TPA.
  • Sebelum terjun ke Tempat Penitipan Anak, tenaga pengasuh harusnya menjalani tes kesehatan agar mereka tidak menjadi sumber penularan penyakit terhadap anak-anak yang tentu masih amat rentan daya tahan tubuhnya. Ini semata-mata agar orangtua tidak perlu merasa was-was menitipkan anaknya disana.
  • Para fasilitator ini perlu mendapat pelantikan terlebih dahulu, khususnya bagaimana cara menangani anak. Selama pelatihan dan magang akan diamati apakah mereka sudah memenuhi syarat. Diantaranya terampil membujuk anak, menstimulasi  anak dengan menggunkan program yang ada dan bagaimana pendekatannya pada anak karena masing-masing anak, kan, butuh pendekatan yang berbeda-beda. Bagaimana cara dia dalam menyampaikan bentuk stimulasi ke anak A tentu tidak sama dengan penyampaian ke anak B.
  • Para fasilitator minimal berpendidikan S1 dari berbagai disiplin ilmu. Artinya, lulusan ilmu keguruan belum tentu menjamin yang bersangkutan siap mendedikasikan diri di tempat semacam ini. Bisa jadi karena sistem pendidikan di sini kurang “menghargai” profesi guru. Padahal menjadi guru berarti harus lebih banyak ikhlasnya karena yang dihadapi bukan benda mati dan belum tentu selalu dalam posisi yang manis mau mengikuti apa yang kita katakan.
  • Yang pasti harus punya hati dan cinta anak sehingga mampu memperlakukan anak yang dititipkan seperti memperlakukan anak sendiri , penuh dengan kasih sayang. Selewat 3 bulan masa percobaan biasanya anak akan terlihat karakter asli sang calon SDM. Apakah ikhlas untuk mendedikasikan dirinya untuk urusan anak atau tidak.
  • Secara berkala fasilitator harus mendapat penyegaran di tempat-tempat khusus mengenai materi terkait dengan kebutuhan Tempat Penitipan Anak, seperti keterampilan, pendidikan atau psikologi anak.

Program Ideal di TPA

  • Setiap hari, sebaiknya TPA hanya menerima 10-15 anak. Rasio fasilitator dengan anak idealnya 1:3 atau maksimal 1:4 unuk anak-anak yang sudah agak besar (4-5 tahun). Sedangkan untuk anak yang lebih kecil atau yang sedang sangat rewel mau tidak mau harus 1:1.
  • Daya tampungnya tidak missal. Kalaupun ada banyak anak yang perlu ditampung, buatlah penyekat agar suasana nya tidak padat yang jelas-jelas tidak akan efektif saat fasilitator menyampaikan materi stimulasi. Hasilnya pun tidak akan optimal. Niat dasarnya apa lagi kalau bukan agar anak mendapat perhatian yang cukup dari setiap fasilitator.
  • Harus diingat, setiap anak memiliki tugas perkembangan sendiri-sendiri. Nah, pemilihan permainannya juga ahrus disesuaikan dengan tugas perkembangan ini. Anak 1-2 tahun dan anak usia 4-5 tahun dapat diberi stimulasi yang sama hanya saja tingkat kesulitannya yang berbeda.
  • Meski ada orangtua yang menyiapkan makanan khusus untuk anaknya, TPA mestinya menyediakan makan siang anak-anak yang dititipkan. Apa pun, kebersamaan saat makan merupakan pembelajaran tersendiri bagi anak-anak usia ini. Itulah mengapa variasi dan kecukupan gizi makanan yang disajikan untuk anak harus betul-betul mendapat perhatian. Sangat tidak bertanggung jawab bila anak hanya disuguhi mi instan.
  • Masing-masing kebiasaan anak dicatat. Ada yang harus minum susu terlebih dahulu sebelum tidur, ada yang wajib dininabobokan dengan dongengan ataupun lagu tertentu setiap kali mau tidur dan sebagainya. Menjelang pulang, setiap anak harus disiapkan untuk mandi sehingga ketika orangtua datang menjemput mereka sudah bersih dan rapi. Sedangkan ganti baju sebaiknya dilakukan setiap kali baju anak sudah basah oleh keringat atau kotor karena bermain.
  • Jarak tempuh TPA dengan lokasi rumah anak sebaiknya jangan lebih dari 30 menit. Terlalu jauh hanya akan membuat anak letih dalam perjalanan sehingga program “pembelajaran” yang disampaikan di TPA sama sekali tidak efektif. Menurut Romi, sangat tidak manusiawi kalau anak harus bangun rata-rata jam 4 pagi setiap hari hanya agar bisa berangkat bersama orangtuanya ke kantor. Atau terpaksa dibopong ke mobil selagi masih terlelap kemudiap dilap dengan waslap dan disuapi selama perjalanan.

Peran Orangtua di TPA

  • Peran orangtua dalam hal ini tidak bisa diabaikan. Itulah mengapa harus ada kerja sama yang baik antara TPA dengan orangtua, semisal melalui program parenting class/seminar minimal setiap 3 bulan sekali. Dalam kesempatan ini semua sisi harus terwakili, termasuk pembahasan aspek kesehatan. Selain itu, pengasuh anak juga berhak mendapat pembelajaran, tidak hanya orangtua, terutama bila bukan orangtua langsung berinteraksi dengan anak.
  • Harus ada kebijakan tentang para pengasuh yang ikut mengantarkan anak ke TPA. Mereka sebaiknya tidak diperbolehkan mendampingi anak-anak selama berada di TPA agar anak mampu lebih mandiri dengan tahap perkembangannya. Para pengasuh ini bisa dikumpulkan di satu ruang khusus yang tidak mungkin terlihat anak, mereka diberi kegiatan positif, seperti membaca buku pengasuhan atau mendapat keterampilan yang mendukung tugas mereka.
  • Orangtua mendapat semacam rapor setiap 3 bulan sekali, meski di luar waktu itu orangtua  boleh-boleh saja datang berkonsultasi/bertanya langsung mengenai anaknya pada coordinator yang berprofesi sebagai psikolog.
  • Pengertian orangtua amat diharapkan. Anak yang kurang fit, untuk sementara waktu harus ditinggal di rumah dulu. Langkah pencegahan inin diperlukan karena TPA umumnya tidak memiliki ruang isolasi atau sejenisnya. Keterbatasan seperti ini tentu akan mempercepat penyebaran kuman penyakit.
  • Para fasilitor dituntut untuk kreatif dalam memberikan informasi dan stimulasi. Tidak usah mengada-ada, kenalkan saja hal yang dekat dengan keseharian anak.
  • Harus ada hubungan timbale balik yang positif antara orangtua dan pihak TPA. Orangtua wajib menyampaikan apa yang terjadi di rumah kepada pengelola. Carilah TPA yang bisa mengakomodasi keinginana orangtua. Kalau memang tidak sesuai dengan misi dan visi salah satu TPA, jangan memaksakan dirir menitipkan anak di TPA tersebut.
  • Orangtua jangan malas belajar karena cara merawat dan mengasuh anak yang ditempuh selama ini belum tentu sesuatu yang terbaik buat anak. Ada yang baik, tetapi tidak cocok. Harus mengambil cara yang bisa cocok dan bermanfaat agar anak terstimulasi hingga kemampuannya meningkat.
Tags: , , ,

Related to Tips Menitipkan Anak di TPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *